19 tahun silam aku dilahirkan oleh latar belakang keluarga yang kurang mampu secara ekonomi. Ketika usia ku masih 3 bulan di dalam kandungan Ibu dan Ayah sudah resmi bercerai dan sampai detik ini pun aku masih belum tahu raut wajah Ayah kandungku, Ibu merawatku seorang diri. Hingga pada tahun 1995 Ibu memutuskan untuk menikah lagi. Ketika itu Ayah baruku hanya seorang pemilik pabrik batako yang tidak lama kemudian usahanya mengalami kebangkrutan. Terpaksa kami harus menjalani hidup apa adanya, tinggal menumpang di rumah nenek hingga sekarang.
Walaupun Ayah Ibuku bukan berasal dari keluarga konglomerat mereka tidak pernah luput mengajariku menulis, mambaca, menyisipkan ilmu-ilmu agama serta mengajariku banyak hal tentang makna kehidupan. Pada tahun 1999 Ibu menyekolahkanku di SDN 1 Gunungsindur, lokasinya lumayan jauh dari rumah. Walaupun pulang pergi selalu jlan kaki tapi aku tetap berangkat sekolah dengan semangat yang tinggi. Alhasil dari didikan orang tuaku dan semangat belajarku, aku selalu meraih peringkat pertama pesemester hingga kelas enam SD. Dan aku bersyukur ternyata ada orang luar yang mengamati prestasi dan kesulitan keluargaku. Pada tahun 2001 aku dan Kepala Desa di kampungku berangkat ke salah satu aula besar yang ada di kota Jakarta (aku lupa namanya) tapi ada fotonya, untuk menerima bantuan dan beasiswa, di depan ratusan orang di antaranya para pejabat dan konglomerat beasiswa berupa buku tabungan itu diserahkan kepadaku untuk digunakan sebagaimana mestinya. Akan menjadi kenangan dan pengalaman berharga setelah aku dewasa nanti.
Biaya pendidikan sudah semakin mahal saat itu, hingga aku dan orang tuaku bingung untuk melanjutkan sekolahku ke SMP. Alhamdulillah ada seorang bapak-bapak yang sekarang sudah ( Alm ) membantu aku hingga aku bisa melanjutkan sekolah. Tidak hanya di SD, di SMP pun semangat belajarku selalu tinggi walaupun tidak selalu mendapatkan peringkat pertama aku selalu masuk lima besar. Memang ketika di SMP prestasi belajarku agak turun karena ada faktor-faktor tertentu.
Kembali aku dan keluargaku bingung untuk biaya sekolahku, yaitu masuk ke jenjang yang lebih tinggi ( Sekolah Menengah Atas) . Waktu itu nenek menyuruhku untuk bekerja saja manjadi buruh pabrik . Tapi aku menolaknya, karena aku mempunyai cita-cita dan bukan tipe orang yang mudah menyerah dengan keadaan.
Akhirnya Allah memberi kami jalan melalui bapak-bapak itu.. Dengan sedikit bantuannya aku bisa malanjutkan ke SMA.
Di sinilah ( SMA ) aku mulai menganal jati diriku, aku sangat aktif di kepengurusan kelas, olahraga, ekstrakulikuler, organisasi serta rajin berkonsultasi dengan guru. Di semua kepengurusan aku paling aktif di bidang keuangan dari masa SD hingga sekarang. Kegiatan apapun aku jalani, sambil berjualan pulsa hasilnya aku tabung yang kemudian besama Ibu dapat membuka sebuah warung kecil-kecilan, berhenti berjualan pulsa aku berjualan gorengan di sekolah. Rasa malu pun aku lawan... sampai ketika aku pulang sekolah jalan kaki, kemudian ada anak bawa motor dan meneriakiku "harii gini jalan kaki" mereka tertawa... Aku abaikan saja segala ledekan dan hinaan orang, saat ini aku hanya bisa menunjukkan keunggulan diriku melalui prestasi belajar bukan dengan materi.
Apapun aku lakukan agar bisa menuntut ilmu, hasil tabungan, uang jajan tak pernah ku belikan apapun selain
BUKU. Tak apa memakai baju butut asalkan aku punya bekal ilmu. Setiap hari badanku selalu membawa sekitar 5kg barang bawaan dan itu adalah buku. Tak sia-sia hasil belajarku akupun selalu mendapat peringkat tiga dan bahkan juara umum dengan reward gratis buku selama satu semester dari sekolah. Aku selalu semangat mengerjakan tugas dari guru. Di organisasi mungkin bisa dibilang aku yang paling berperan, aku selalu aktif dalam kegiatan apapun di sekolah. Di ekskul juga lumayan banyak jasaku... Kami selalu aktif mengikuti perlombaan diantaranya pada tahun 2008 tim ekskul KIR ku mengikuti perlombaan dengan tema "PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM LINGKUNGAN SEKITAR" yang dilaksanakan di Gedung Sate Bandung. Alhamdulillah sekolah kami mengirimkan dua judul makalah serta hasil penelitian, berdasarkan hasil presentasi kami meraih juara pertama tingkat provinsi se-Jawa Barat dengan hasil penelitian
"Saus Durian", dan juara dua juga diraih oleh sekolah kami dengan judul "
Beton dengan Campuran Daur Ulang Sampah." Karena pada waktu itu yang presentasi diharuskan senior ( kakak kelas ) dan aku sebagai tim pembantu, jadi aku tidak dapat sertifikat deeh. Tapi aku tetap bangga dengan hasil yang telah kami raih artinya tidak sia-sia. Walaupun aku belum pernah mendapat kesempatan untuk berprestasi lebih seperti yang lainnya, tapi aku selalu mencoba berinovasi dengan hal-hal yang baru...
Ketika perpisahan sekolah, namaku dipanggil ke hadapan banyak publik "dan inilah, salah satu siswa kita yang bisa mendapatkan beasiswa gratis kuliah 100% hingga jenjang S-1 ilmu komunikasi". Aku bangga.. karena tak sumua orang bisa sepertiku, bagiku ini merupakan sebuah prestasi yang tak ternilai. Karena sekolahku benar-benar memilih siswa yang memiliki nilai tertinggi untuk mendaftarkan siswanya mengikuti kesempatan program beasiswa ini. Masa lalu merupakan pengalaman berharga untukku bahkan mungkin semua orang, obsesiku sekarang hanyalah membawa nama baik keluargaku, kampus serta bangsa... Jangan pernah menutup kesempatan kami untuk mengembangkan potensi yang kami miliki, semua punya mimpi. Bimbinglah kami untuk meraih mimpi itu...
Selamat menempuh masa depan... Jadilah selalu manusia yang bermanfaat untuk manusia lainnya.
Jadikan semua lika liku hidup kita pengalaman berharga. Niat, Usaha dan Do'a semoga selalu menyertai perjalanan hidup kita. Aku banyak belajar dari kesulitan hidupku, karena dari sanalah aku belajar prihatin, mandiri dan tidak mudah menyerah. Terima kasih untuk Allah SWT, orang tua, sekolah serta Universitas Gunadarma yang telah memberikan kesempatan ku untuk belajar di sana.
"SALAM SUKSES UNTUK KITA SEMUA.
"